-15%

Cinta Tak Berhenti di Lampu Merah

Rp60,000.00 Rp51,000.00

Deskripsi

Nizar mulai menulis puisi sejak umur 16 tahun, menerbitkan buku puisi pertamanya pada tahun 1944 ketika masih menjadi mahasiswa, Qalat li al-Samra’. Puisi-puisinya ditulis dengan bahasa yang sederhana, jelas dan terkadang erotis, diminati oleh hampir seluruh pemuda, namun mendapatkan kritik tajam lantaran dianggap menghina Tuhan. Dalam antologi berikutnya Nizar banyak menulis dari sudut pandang perempuan dan menyuarakan kekebasan di tengah budaya patriarkal. Selain ditujukan kepada seluruh perempuan Arab, Nizar menulis puisipuisi pembebasan perempuan lantaran peristiwa tragis yang menimpa kakak perempuannya ketika Nizar masih berusia 15 tahun. Saat itu, kakaknya bunuh diri lantaran menolak dinikahkan dengan lelaki yang tidak dicintainya.

Banyak penyair yang beralih ke tema politik setelah Perang Enam Hari (1967) antara Israel dan tiga negara Arab, Mesir, Yordania dan Suriah. Perang tersebut disebut juga Musibah Kemunduran (al-Naksah) terutama bagi Palestina yang beberapa wilayahnya diambil alih oleh Israel. Nizar, bersama penyair lainnya, banyak mengkritik pemimpin Arab lantaran kekalahan tersebut.

Keseragaman tema puisi Arab pasca Perang Enam Hari justru mengangkat nama Nizar ke permukaan. Jika kolomkolom puisi dipenuhi dengan umpatan dan amarah, Nizar justru mempertahankan diksi-diksi keperempuanan dan erotisme, melakukan pembaruan dalam konsepsi tentang cinta untuk mengkritik pemerintah dan negara-negara Arab: cinta kepada perempuan, keluarga dan negara berjalin-kelindan dalam puisi-puisinya.

Informasi Tambahan

Berat 250 g
Penerbit

Penulis

Halaman

xii + 136 halaman

Dimensi

13 x 19 cm

Cetakan

2021

Review

Belum ada ulasan.

Hanya pelanggan yang telah membeli produk ini yang dapat memberikan ulasan.